8-9 Febuari 2010
Kami pertama kali akrab semenjak kami duduk di kelas 2 tingkat sekolah dasar. Kami terus berteman dan berkomunikasi dengan baik hingga duduk di tingkat akhir dari sekolah menengah pertama. Ya. Kami, aku dan Inas. Bisa dihitung beberapa hari lagi aku dan Inas menempuh Ujian Nasional, sebagai syarat wajib mencapai kelulusan dan syarat wajib jika ingin menduduki bangku SMA. Aku tahu, Inas akan segera pindah ke daerah di Pulau Sumatera dekat Selat Sunda; Lampung.
Waktu kami masih kelas 7, Inas hampir pindah ke Lampung, tapi tidak jadi. Berita yang menggembirakan. Tapi tahun ini, Inas dipastikan pindah. Inas dan keluarganya telah mensurvei segala sesuatu yang ada di Lampung. Aku sangat berharap ia tak jadi pindah lagi, tapi aku bukan Tuhan. Sempat aku berpikir, apa ya yang akan kuberikan agar ia tak lupa padaku?
Kalau saja aku punya celengan sebesar rumah 3 tingkat, aku akan membelikan ia bioskop serta toko buku sebanyak yang ia mau, hahaha.
Sayangnya, aku hanya memiliki celengan berbentuk babi yang terbuat dari batok kelapa dengan tinggi yang hanya 15 cm, panjang 12 cm, lebar 15 cm. Seandainya aku pun aku mampu membelikan ia bioskop dan toko buku, aku tak bisa membayar pelajaran yang telah ia berikan padaku. Aku sangat suka cara ia menulis. Bahasanya indah dan mudah dicerna. Kalimatnya selalu positif dan penuh makna, padat dan berisi. Negatif untuk diambil positifnya. Aku selalu diajari berpikir positif. Itu yang paling kuingat darinya. Sebisa mungkin untuk tidak menyalahkan orang lain. Cari teman sebanyak-banyaknya, bukan musuh. Inas benar-benar bisa disebut "one in a million". Tidak banyak yang seperti dia. Aku bersyukur pernah, bisa dan masih
dari inas untuk aku :
11 Februari 2010
Aku bukan orang yang baik, aku ini buruk tapi Anit selalu meperlakukanku dengan baik, teramat baik. Ia adalah teman yang paling lama menemaniku, aku sadar masa yang telah kami habiskan tidaklah sebentar. Aku hanya dapat mengucapkan terima kasih namun tak bisa membalas apa-apa. Aku menyusahkan dan terus-terusan meminta bantuannya. "Anit tolong ya, aku tidak bisa..."
Aku bukan teman yang baik dan entah mengapa Tuhan memberikanku teman yang sangat baik. Bahkan aku terlalu lemah untuk menyampaikan kalimat ini secara langsung, aku hanya bisa menulis dan menulis. Menyampaikan kalimat yang kuharap dapat berguna, karena kupikir aku tak bisa melakukan hal lain yang membahagiakan.
Satu hal, aku belum pernah bilang mengapa aku membutuhkan bioskop dan toko buku. Perasaan itu, perasaan yang hanya kudapat disana.
Bersama kalian semua, bersama teman-teman terbaikku, mencari buku dan komik lalu memilih film yang akan ditonton, kadang bertengkar kecil memutuskan film terbaik. Andaikan ada 1000 toko buku dan bioskop tapi tanpa sahabat hal itu hanya sia-sia. Kuharap dengan berdiam diri, menatap tumpukan buku dan bau popcorn, aku bisa mengingat kalian lagi, memori yang terpendam kembali bangkit, seolah kalian ada di sampingku dan bisa tertawa bersama.
Rumah Anit, rumah teman yang paling sering kukunjungi. Cuma main atau memang ada tugas, aku suka berada di rumahnya. Rasanya nyaman. Makan bersama lalu main wii, yah sudah lama tidak main wii^^
Aku suka menulis ketimbang berbicara. Saat aku diam, pikiranku melambung membentuk balon-balon pikiran yang ramai berdempetan. Banyak yang aku pikirkan dan saat aku mulai berbicara pikiran-pikiran itu tersisih dan menghilang, kusadar konsentrasiku buruk karenanya aku hanya dapat melakukan satu aktivitas dlm satu kesempatan. Semenjak sering berjalan, dari depan kompleks hingga rumahku, aku mendapat banyak kesempatan untuk berpikir. Membagi otak untuk bekerja dimana aku harus tahu kemana aku akan melangkah dan apa yang akan aku pikirkan. Sehingga sesampainya di rumah, aku duduk menulis blog sambil minum susu non-fat dan pikiran itu terurai begitu saja dan mengalir layaknya sungai. Aku tak tahu waktu yang telah kugunakan, lembar yang telah kuhabiskan, selama pikiran itu masih ada aku akan terus menulis.
Anit, teman yang tak terlupakan, aku minta maaf karena selama ini tidak menjadi teman yang bisa membalas semua hal yang telah diberikan. Hari yang telah menjadi masa lalu akan selalu tersimpan hangat di hati, ketika esok bertemu lagi kuharap persahabat yang kini terjalin tidak terhapus untuk selamanya.
dari aku untuk membalas tulisan indahnya:
11 Februari 2010
Aku tidak pernah merasa disusahkan. Aku senang jika Inas masih mau menyusahkanku. Dimana artinya dia masih membutuhkanku. Aku senang dibutuhkan oleh orang terdekatku. Terlebih ia pun sering membantuku. Benar-benar aku harus berterima kasih kepada Allah. Allah memberikanku teman-teman terbaik, mengesankan, tidak dapat dipercaya, pintar, anggun dan menyenangkan. Betapa genius temanku yang bernama Inas ini. Balon-balon ide bisa ramai memenuhi pikirannya. Apapun idenya, aku selalu suka dan langsung tertarik. Ya. Aku jatuh cinta dengan segala ide pikiran yang ia tumpahkan dalam secarik kertas yang disusun menjadi buku. Hampir semuanya berguna. Aku sangat suka memposting twitter berisi kutipan dari tulisan Inas. Ah diriku tak sepintar Inas berbahasa. Aku takut ia tak mengerti bahasaku. Memang bukan bahasa asing, tapi bahasa ku tidak seindah bahasanya. Bahasa nya tidak pernah menyinggung seseorang. Cepat balas suratku ya :)
No comments:
Post a Comment